| Dari Mana Ikan Akuarium Anda Berasal? |
|
|
|
| Ditulis oleh Ron Lilley |
| Jumat, 08 Agustus 2008 06:15 |
|
Karena itu, untuk membantu kita semua mengetahui asal usul perdagangan ikan hias ini, saya memutuskan untuk melihat kondisi dan masalah-masalah yang mempengaruhi masyarakat (nelayan) yang berada di posisi terdepan dari rantai perdagangan yang panjang ini. Sebagai negara dengan sekitar 17.500 pulau, banyak penduduk Indonesia berdiam di wilayah pesisir pantai atau pulau-pulau terpencil. Bahkan di wilayah yang sudah maju pun, termasuk di daerah ibukota negara-Jakarta, para penduduk pesisir lebih tertinggal dalam menerima fasilitas-fasilitas modern. Minimnya sistem kebersihan, kesempatan menikmati pendidikan dan fasilitas kesehatan dan tingginya tingkat kematian dan kelahiran bayi adalah masalah-masalah yang umum dijumpai. Masyarakat nelayan termasuk salah satu golongan yang berada di bawah garis kemiskinan di Indonesia. Berbeda dengan masyarakat daratan, mereka umumnya tidak punya hak milik atas tanah yang ditempati, tidak memiliki keahlian bertani (bertanam dan panen) sehingga mata pencarian lebih bersifat ambil hari ini untuk makan hari ini. Terlebih karena sumberdaya laut adalah satu-satunya sumber penghasilan dan sumber bahan makanan mereka. Di seluruh kawasan pesisir Indonesia, nelayan ikan konsumsi biasanya terlihat mencari ikan menggunakan jukung atau sampan kecil. Mereka hanya membekali diri dengan sejenis kacamata renang (goggle) buatan sendiri dan keranjang. Kerangka kacamata ini terbuat dari kayu dan dipasangi kaca yang sudah dibentuk sesuai kerangkanya dan dilekatkan dengan semacam getah pohon. Kedua ujung kacamata kemudian dihubungkan dengan karet yang yang dibuat dari potongan ban dalam motor atau sepeda. Kadang-kadang mereka juga membawa sejenis alat tembak buatan sendiri, terbuat dari kayu dengan terali sepeda yang dimodifikasi menjadi ujung tombaknya. Sebagai penarik digunakan karet yang dipotong dari ban dalam motor atau sepeda. Dengan peralatan sederhana inilah, para nelayan kemudian menyelam dam mampu menangkap berbagai jenis ikan. Jenis-jenis lain seperti kerang, tiram, lobster dan lainnya tinggal diambil dari dasar laut, dimasukkan ke keranjang kemudian dibawa ke perahu. Cukup banyak hasil tangkapan yang mati selama proses pengumpulan dan karena itu oleh nelayan dijual sesegera mungkin. Satu faktor pembatas utama yang umum dihadapi nelayan adalah tidak tersedia atau terbatasnya fasilitas listrik di desa mereka, sehingga mereka tidak mungkin menyediakan fasilitas penyimpanan (misalnya kulkas). Kecuali mereka mampu menyediakan es balok untuk menyimpan ikan-ikan tangkapan, para nelayan harus menjual hasil tangkapan mereka secepat mungkin sebelum mulai membusuk. Atau, pilihan lainnya adalah, mengeringkan dan mengasinkan ikan hasil tangkapan (Seorang mahasiswa yang pernah bekerja sama dengan saya menemukan bahwa hampir 80% ikan yang dijemur telah disemprot dengan obat nyamuk merek B***** untuk menghalau lalat agar tidak hinggap!). Sejak awal saja kita sudah bisa membayangkan betapa sulitnya kehidupan masyarakat nelayan ini. Pada artikel selanjutnya saya akan menjelaskan bagaimana beberapa nelayan tersebut beralih menjadi nelayan ikan hias dan bagaimana kehidupan mereka berubah oleh kegiatan ini (Ron Lilley). |
| Terakhir Diperbaharui pada Senin, 09 Agustus 2010 14:44 |






Kegiatan perdagangan ikan hias laut di Indonesia telah berlangsung selama kurang lebih 25 tahun dan berkonstribusi terhadap pendapatan para nelayan di wilayah desa-desa pesisir seluruh nusantara. Anehnya, ketika bertanya ke nelayan, apakah mereka tahu akan diapakan ikan-ikan yang mereka tangkap? Kebanyakan hanya punya satu jawaban, yaitu “Untuk akuarium pak!” atau malah “Tidak tahu pak!”. Katanya, dulu ada seorang pedagang dari luar yang datang ke mereka dan memperlihatkan beberapa gambar ikan hias. Orang itu berkata bahwa jika nelayan menangkap ikan yang ditunjukkan maka dia akan membelinya. Hal ini membuat para nelayan kaget dan bertanya-tanya, jenis-jenis yang dipesan itu bukan jenis ikan makan, jadi kenapa ada orang yang ingin membelinya?

